Tiga Pelajaran Obama
untuk SBY
Oleh Tri Agus S. Siswowiharjo
Oleh Tri Agus S. Siswowiharjo
Jawa Pos [ Selasa, 24
Agustus 2010 ]
PRESIDEN Amerika Serikat Barack
Obama sedang menghadapi kontroversi. Sebab, dukungan terhadap rencana
pembangunan Islamic Center di dekat Ground Zero -bekas menara kembar WTC- di
New York, menuai kritik sebagian besar rakyat AS. Namun, Obama tak goyah.
Itulah, setidaknya, satu di antara tiga pelajaran atau teladan dari seorang
pemimpin dunia yang patut ditiru Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebagai pemimpin, seseorang harus
mementingkan nasib rakyatnya. Obama menunjukkan kepada SBY dan rakyat Indonesia
ketika dia menunda kunjungan ke Jakarta -di antaranya bernostalgia di sebuah SD
negeri di Menteng- menjelang disahkannya Undang-Undang Kesehatan yang sangat bersejarah.
Obama, pada detik-detik pemungutan suara pengesahan undang-undang tersebut, tak
bisa meninggalkan tanah air untuk memastikan semua lobi partainya berjalan
mulus dan RUU itu disetujui menjadi UU.
Undang-Undang Kesehatan merupakan
salah satu realisasi janji Obama dalam kampanye pada pemilu presiden 2008. Di
beberapa negara bagian yang dikunjungi selama musim kampanye, Obama selalu
mengungkapkan bahwa dirinya akan mewujudkan jaminan sosial bagi rakyat seperti
yang selama ini diterima para angota kongres. Untuk hal tersebut, Obama tidak
peduli dengan tuduhan Partai Republik bahwa kebijakannya sangat sosialis,
bahkan mendekati komunis.
Sementara itu, SBY yang dicitrakan
sebagai pemimpin prorakyat kecil, terutama menjelang pemilihan presiden 2009,
tampaknya tak berlanjut ketika rakyat kembali memilihnya. Berbagai program
seperti raskin (beras miskin), bantuan langsung tunai (BLT), dan kebijakan
populer lainnya seakan menggelontor menjelang pemilihan presiden. Setelah presiden kembali terpilih,
terjadi kenyataan yang berbeda. Harga-harga bahan pokok membubung tinggi, tarif
dasar listrik (TDL) naik, serta konversi dari minyak ke gas yang kurang
sosialisasi berdampak jatuhnya korban ledakan tabung gas 3 kg. Intinya, kebijakan pemerintah untuk
mengentas kemiskinan tidak dilakukan secara mendasar -misalnya, menciptakan UU
yang prowarga miskin seperti UU Kesehatan ala Obama-, melainkan hanya tambal
sulam, apalagi hanya dilakukan menjelang pemilu.
Pelajaran kedua yang patut dicatat
SBY adalah, lagi-lagi, penundaan kunjungan ke Indonesia gara-gara masalah dalam
negeri. Kali ini, terjadi tragedi lingkungan. Yaitu, bocornya tambang milik
British Petroleum (BP) di lepas pantai Teluk Meksiko sehingga terjadi
pencemaran laut dan pantai yang dahsyat.
Obama tak tinggal diam. Dia memimpin
rapat-rapat khusus dan terjun langsung ke lapangan. Tak hanya itu, dia juga
''mendamprat'' perusahaan raksasa minyak asal Inggris tersebut untuk
bertanggung jawab menghentikan kebocoran dan mengganti seluruh kerugian yang
diderita masyarakat pesisir pantai, satwa, serta biota laut.
Obama seolah ingin memberi tahu,
beginilah berhubungan dengan perusahaan raksasa yang mencemari lingkungan. Tak
sampai empat bulan, kebocoran minyak di lepas pantai itu bisa diatasi dan
kerusakan segera diperbaiki serta korban mendapat ganti rugi.
Tentu, Obama tak mengetahui banyak
perihal tragedi lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, sebagai pemimpin
tertinggi di suatu negara, Obama memberikan teladan bahwa presiden harus tegas
dan berani serta wajib berpihak kepada rakyat. Obama tak peduli bahwa Inggris
adalah sekutu terdekat Amerika. Dia lebih peduli kepada korban pencemaran
lingkungan.
Penyelesaian kasus lumpur Lapindo
yang belum tuntas hingga bertahun-tahun menunjukkan kepemimpinan SBY kurang
berani dan efektif menghadapi perusahaan milik kelompok Bakrie. SBY terlalu
mempertimbangkan rasa sungkan terhadap Aburizal Bakrie karena dia merupakan
salah seorang penyumbang terbesar saat pemilu presiden lalu. Sebaliknya, SBY
kurang mempertimbangkan para korban lumpur Lapindo.
Di sisi lain, hal itu merupakan
kepiawaian seorang Aburizal Bakrie sebagai bos kelompok usaha Bakrie sekaligus
ketua umum Partai Golkar dan ketua Sekber Koalisi Partai pendukung
SBY-Boediono. Pelajaran ketiga Obama bagi SBY, ya
itu tadi, dukungan terhadap rencana pembangunan Islamic Center di New York.
Obama jelas melawan arus mayoritas rakyat AS seperti yang ditunjukkan oleh
hasil beberapa survei tentang hal tersebut.
Berdasar hasil polling CNN pekan
lalu, sekitar 70 persen warga AS menentang pembangunan gedung Islamic Centre
dan masjid di bekas Menara Kembar yang diserang teroris, 9 September 2001,
tersebut. Dalam survei sebelumnya, Pew Research Center dan Pew Forum on
Religion & Public Life menyebutkan, 18 persen rakyat AS percaya bahwa Obama
adalah seorang muslim.
Namun, Obama tetaplah sosok yang
cerdas dan keras. Cerdas berargumentasi dan keras membela prinsip. Dukungannya
terhadap pembangunan Islamic Center bukanlah disebabkan adanya simpati terhadap
komunitas muslim AS -karena dia dilahirkan oleh seorang ayah beragama Islam dan
masa kecilnya pernah tinggal di Indonesia. Tapi, Obama justru ingin menunjukkan
bahwa dirinya Amerika tulen.
Yakni, menjunjung tinggi kebebasan
dan pluralisme. Komunitas agama apa pun di negeri itu bebas berkumpul dan
mendirikan tempat ibadah. Karena itu, Obama tak peduli dengan popularitas
dirinya dan masa depan partainya pada pemilu mendatang. Dia tegar membela
prinsip kebebasan dan pluralisme Amerika.
Bagaimana
dengan SBY? Sangat tampak SBY tidak setegas Obama dalam urusan kebebasan
beragama. Pendapatnya tentang Ahmadiyah dan serangan Islam radikal terhadap
penganut agama non-Islam sangatlah normatif dan tidak tegas. SBY tampak tak
ingin kehilangan simpati dari partai-partai Islam yang mendukung pemerintahnya.
Itulah perbedaannya dari Obama yang tak peduli dengan urusan citra dan suara,
jika menyangkut prinsip negara, yaitu kebebasan dan pluralisme.
Karena
itu, akhir-akhir ini, di beberapa situs jaringan sosial semacam Facebook,
banyak diskusi mengenai sikap SBY atas perusakan masjid milik penganut
Ahmadiyah dan penggusuran gereja HKBP di Bekasi. Ada yang menulis, bagaimana kalau SBY ditukar
guling dengan Obama saja.
Ada
pula yang menganalisis dengan mengutip hasil survei Pew Research Center, jika
di Amerika satu di antara lima orang percaya Obama beragama Islam, bisa jadi di
Indonesia, satu di antara lima orang percaya SBY mendukung kebebasan dan
pluralisme. Lho? Artinya, empat di antara lima
orang Indonesia
percaya SBY tidak pro kebebasan beragama, melainkan pro-Islam radikal. (*)
*)
Tri Agus S. Siswowiharjo, alumnus Magister Komunikasi Politik Universitas Indonesia,
menulis buku ''Obama Bicara: Kumpulan 10 Pidato Obama Paling Memukau''
Tidak ada komentar:
Posting Komentar