Minggu, 11 Maret 2012

If There is a Whale,There is a Wave...

If There is a Whale,There is a Wave...

Harian Seputar Indonesia, Sunday, 23 November 2008

MENJELANG Pemilu 2009, iklan politik kian marak.Ada yang
memperkenalkan partai, ada juga yang memperkenalkan tokoh partai..
Bahkan,yang bukan siapa-siapa mengaku calon pemimpin bangsa.

Layaknya iklan sabun cuci, ada yang menyatakan, "Pilihlah saya atau
partai kami.. "Mereka jeli memanfaatkan momen tertentu seperti Hari
Kebangkitan Nasional, Hari Kemerdekaan sampai Lebaran. Intinya, iklan
politik tak lebih dari iklan produk sabun atau kosmetik.

Jika iklan politik dikemas seperti iklan rokok,bisa jadi akan jauh
lebih inspiratif dan menggugah.Karena tak boleh menunjukkan produknya.
Namun, tunggu dulu, di akhir iklan mesti ada keterangan penting,
peringatan pemerintah: terlalu percaya kepada partai politik dan
politisi busuk bisa mengakibatkan korupsi, kolusi,dan nepotisme.

Fadjroel Rachman, aktivis yang mencalonkan diri menjadi presiden lewat
jalur independen, suatu saat mendapat tawaran dari Rizal Mallarangeng
agar bisa berkampanye bersama lewat media seperti televisi. Ibarat bus
kota,sesama calon kaum muda dilarang saling mendahului. Sungguh ini
tawaran menarik.

Publik akan makin kenal mukamuka baru dan muda calon presiden
2009.Fadjroel kemudian mendiskusikan dengan "tim sukses"- nya.Ternyata
hampir semua teman Fadjroel menolak tawaran itu.

"Jangan mau dong. Nanti nama kamu bisa dipanggil Fadjroel Bakrie!"
Untung Fadjroel tak jadi bergabung bersama membintangi iklan yang
selalu berseru,"If there is a will, there is a way"itu.Bukan saja
lantaran mantan aktivis ITB tersebut tak mau menjadi "Bakrie
Boys",tetapi juga karena garis politik mereka berbeda.

Dalam sebuah acara debat, Fadjroel mengritik Rizal,mantan pembawa
acara Save Our Nation di Metro TV."Acara itu kalau masih tetap
dibawakan Rizal lebih tepat diganti Sale Our Nation." Kritikan tajam
pengagum mantan Perdana Menteri Sjahrir tersebut tentu terkait peran
Rizal dalam tim perunding rebutan blok Migas Cepu antara Pertamina
dengan Exxon Mobil yang berakhir dengan "penyerahan" Blok Cepu kepada
Exxon.

Fadjroel, sama seperti Barack Obama, juga memanfaatkan media
internet.Dalam sebuah tulisan yang terpampang di FaceBook,Fadjroel
menulis begini."Kalau Yuddy (Chrisnandy) partainya besar, Celi (Rizal)
duitnya besar.Fadjroel jiwa atau orangnya besar.

"Tentu saja yang dimaksud Partai Golkar tempat Yuddy Chrisnandy
bernaung dan duit besar Rizal diduga karena kedekatannya dengan orang
terkaya di Indonesia,Aburizal Bakrie. Dalam iklan politik Rizal yang
disiarkan di berbagai televisi,ia digambarkan sangat bangga pernah ke
Ende,Banda Neira,tempat para pendiri republik seperti Soekarno dan
Hatta dibuang.

Lagi-lagi Fadjroel dengan enteng mengatakan, "Kalau Rizal cuma pernah
mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu,saya pernah menghuni sel yang
sama saat Bung Karno ditahan di Penjara Sukamiskin.

"Sekali lagi, beruntung Fadjroel tak jadi membuat iklan bareng Rizal.
Kalau jadi, sekarang tentu dia ikut kecewa dan sedih karena dampak
krisis keuangan global yang dimulai dari Amerika Serikat.Ibarat gempa
bumi,memang episentrumnya ada di Negeri Paman Sam tersebut.

Namun, karena dahsyatnya gempa, seluruh dunia terkena imbasnya, tak
terkecuali Indonesia. Bakrie yang punya episentrum di Jalan Rasuna
Said, beberapa saham perusahaannya terjun bebas.

Pemerintah SBY-JK kembali ("terpaksa atau dipaksa") menolong Bakrie
untuk kedua kali. Pertama dalam kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo.Yang
kedua, ya, apa lagi kalau bukan penyelamatan saham Bakrie lewat
suspend beberapa hari oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ) beberapa waktu lalu.

Pemerintah juga akan membantu pemulihan perusahaan keluarga yang
pernah dinobatkan sebagai terkaya di Asia Tenggara itu. If There is a
will, there is a way.Semua orang tahu jika ingin menjadi
presiden,bikinlah partai seperti Wiranto atau Prabowo Subianto.Rizal
mempunyai keinginan memimpin bangsa ini, tetapi kurang membuka jalan
alias ikut babat alas.

Berbeda dengan Fadjroel yang berkeringat memperjuangkan agar calon
presiden independen bisa bertarung dalam pemilihan presiden,melalui
uji materi di Mahkamah Konstitusi misalnya. Bangsa ini juga patut
berterima kasih kepada Fadjroel dan kawan- kawan yang sukses membuka
jalan bagi calon bupati,wali kota, dan gubernur independent dalam
pemilihan kepala daerah (pilkada). If there is a whale,there is a wave.

Di mana ada ikan paus, di situ ada gelombang. Gelombang itu pun kini
menerpa Bakrie,juga Sutrisno Bachir (SB).Dampaknya iklan politik Rizal
dan SB berkurang,bahkan menghilang ditelan bumi. Kita tak lagi
dicekoki "hidup adalah perbuatan", sementara kita tak tahu apa yang
sudah diperbuat SB terhadap bangsa selama ini.

Hanya mereka yang uangnya tak berseri yang mampu membombardir publik
dengan iklan politik. Salah satunya adalah Prabowo Subianto bersama
Partai Gerindra. Para pengamat menilai iklan Prabowo cukup efektif dan
mampu mendongkrak kepopulerannya. Iklan Prabowo membumi dan bagus
dalam eksekusi. Pertanyaannya sampai kapan?

Menurut Fadli Zon,Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra,sampai
dilarang KPU. There is no Rizal on TV anymore. Rizal alias RM 09 sudah
mengaku kalah dan mengundurkan diri dalam percaturan calon presiden
2009.Tak ada lagi perbuatan dan SB alias Saudagar Batik di layar kaca.
Yang tersisa hanya gebrakan PKS memancing kontroversi publik dengan
"memahlawankan" mantan Presiden Soeharto dan auman macan Prabowo.

Belum lagi Prabowo akan mendapat iklan gratis jika Pansus Penghilangan
Orang secara Paksa DPR berhasil memanggil mantan Komandan Kopassus
tersebut. Kita memang tinggal di republik sinetron.Mereka yang
seolaholah dianiaya atau dizalimi akan mendapat simpati publik.

Iklan politik memang bisa mengubah citra partai dan figur secara
dramatis.Ia bisa mengubah kucing menjadi macan. Bisa juga mengubah
partai guram seolah-olah sudah mengenyam asam garam. Namun dua pemilu
pasca-Orde Baru telah mengubah masyarakat menjadi lebih cerdas.

Iklan boleh saja menyerang kesadaran publik lewat layar kaca tiada
henti, tetapi pemilihlah yang akan menentukan. Pada Pemilu Presiden
2004 belanja iklan calon presiden Mega- Hasyim menduduki peringkat
pertama, tetapi terbukti mereka tidak menjadi pemenang. Iklan politik
hanyalah salah satu cara tokoh dan partai politik berkomunikasi dengan
rakyat selain turun langsung ke bawah menjumpai rakyat..

Jika hanya mengandalkan iklan politik dan meninggalkan komunikasi
politik lain, berapa pun bujet iklan yang digelontorkan tak akan mampu
mengubah persepsi publik terhadap figur atau partai yang royal iklan
tanpa down to earth itu. Antara yang dicitrakan melalui iklan dan
realitas di lapangan harus sinkron. Jika hal itu tak ada, iklan
politik merupakan kebohongan publik. Jika itu yang terjadi, hukum
demokrasi akan berjalan. Rakyat tak akan memilih figur atau partai
pembohong! (*)

Tri Agus S Siswowiharjo, mahasiswa Magister Komunikasi Politik UI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar