Selasa, 13 Maret 2012

Mengenang Masa Anak-anak Menyelamatkan Dolanan Kita



Mengenang Masa Anak-anak,
Menyelamatkan Dolanan Kita

(tulisan ini dimuat di katalog Pameran Tunggal Niken Larasati di Graha Budaya Indonesia Tokyo, Jepang Maret-Juni 2012)

Permainan anak-anak tradisional kini tinggal menunggu waktu hilang ditelan zaman. Anak-anak kini lebih tertarik menghabiskan waktu di depan televisi menonton acara anak-anak atau bermain dengan peralatan modern seperti playstation (PS), game online di internet atau handphone. Akibatnya permainan tradisional makin ditinggalkan.

Menurut Hamzuri dan Tiarma Rita Siregar dalam bukunya, Permainan Tradisional Indonesia (Depdiknas,1998), permainan tradisional memiliki ragam bentuk dan variasi yang begitu banyak. Setidaknya ada 750 macam permainan tradisional di Indonesia, dan banyak yang belum terinventarisasi. Hal ini mengidentifikasikan bahwa permainan tradisional Indonesia sangat melimpah.
Permainan tradisional mempunyai karakteristik yang berdampak positif pada perkembangan anak. Pertama, cenderung memanfaatkan alat di lingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi. Banyak alat-alat permainan yang dibuat dari tumbuhan, tanah, genteng, batu, atau pasir. Misalkan mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk bali, engrang yang dibuat dari bambu, permainan ecrak yang menggunakan batu, telepon-teleponan menggunakan kaleng bekas dan benang nilon dan lain sebagainya.

Kedua, dominan melibatkan pemain yang relatif banyak. Hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Hali ini dikarenakan selain mendahulukan faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antarpemain (potensi interpersonal). seperti petak umpet, congklak, dan gobak sodor.

Ketiga, memiliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (kalau kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan. Semua itu didapatkan kalau si pemain benar-benar menghayati, menikmati, dan mengerti sari dari permainan tersebut.
Kini lihatlah anak-anak zaman sekarang. Mereka mungkin tak kenal, apalagi memainkan gobag sodor. Mereka juga tak lagi melirik dakon atau egrang. Selain membuat anak-anak mampu bersosialisasi dengan baik, permainan anak tradisional dapat melatih saraf motorik anak, karena mereka lebih aktif. Nilai-nilai positif yang itu kini kian pudar, anak-anak sekarang makin tumbuh dalam suasana individualis.

Sebagai seorang pelukis yang pada masa kecilnya akrab dengan permainan tradisional, Niken Larasati resah dan tak rela, permainan tradisional punah dimakan waktu. Perempuan yang lahir dan besar di Yogyakarta ini kemudian mendata dan mencurahkan kepekaan artistiknya pada sejumlah lukisan. Kepedulian terhadap masalah sosial seorang pelukis membutuhkan pengalaman dan konsistensi. Kepeduliannya dan tanggungjawab sebagai seorang seniman bisa kita ditelusuri dari karya sang pelukis sejak ia terjun dan memilih hidup di dunia seni sampai saat ini. Konsistensi adalah kata kuncinya.

Melalui karya yang ditampilkan di Graha Budaya Indonesia (GBI) di Tokyo, Jepang, Niken seolah mengajak kita kembali ke masa lalu: masa anak-anak ketika belum diserbu mainan dan permainan modern. Berbagai permainan anak-anak seperti balapan teklek, dakon, egrang, engklek, jamuran, bekelan, hompimpa, dan pasaran, ia tuangkan dalam kanvas dengan media acrylic. Wajah-wajah anak-anak ceria terlihat dalam hampir semua lukisan Niken. Pelukis yang tinggal di pinggiran kota Yogyakarta yang masih menyatu dengan suasana desa itu, mampu menghadirkan permainan tradisional puluhan tahun lalu pada zaman sekarang. Lukisan-lukisan Niken tak ubahnya seperti lorong waktu yang bisa dipakai siapa saja yang mempunyai masa lalu sebagai anak-anak.

Jika kita amati karya-karya Niken, tampak hampir semua anak-anak yang ceria sedang bermain itu menggunakan pakaian berbahan batik. Lagi-lagi Niken ingin mengangkat batik sebagai karya budaya Indonesia. Tentu ini merupakan kepedulian Niken satu lagi untuk melestarikan budaya negerinya. Di tengah kontroversi pengakuan hasil budaya Indonesia oleh negara lain, Niken menyatakan kepeduliannya melalui karya.

Sejak GBI berdiri 13 tahun lalu baru kali ini menghadirkan seorang pelukis perempuan. Sebelumnya GBI menyelenggarakan Pameran Tunggal atau Grup pelukis Indonesia dari Jakarta, Aceh, Papua, Kalimantan dan Sulawesi. Niken adalah pelukis pertama dari Yogyakarta yang diundang untuk pameran di GBI.
Kehadiran Niken dan karya-karyanya di GBI, tak lepas dari peran media jejaring sosial, Facebook. Ketua Umum GBI-Tokyo Seiichi Okawa pertama kali melihat karya Niken melalui account facebook Niken. Setelah berkomunikasi melalui facebook, pada saat Seiichi Okawa berkunjung ke Indonesia, ia menyempatkan diri mengamati secara langsung karya Niken di rumah yang sekaligus studionya di Yogyakarta.

Pameran Tunggal Niken Larasati di GBI-Tokyo merupakan pengakuan atas konsistensinya. Karya Niken yang sarat dengan kepedulian mengangkat dolanan anak-anak tradisional mendapat apresiasi yang setimpal. Kepedulian Niken terhadap permainan tradisional dan batik sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang giat memberdayakan dan mengembangkan budaya lokal sebagai aset budaya untuk menunjang pariwisata. Selamat untuk Niken Larasati dan GBI-Tokyo.

Yogyakarta, akhir Januari 2012

Tri Agus Susanto
Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar