Selasa, 20 Maret 2012

Mendahului Para Pendahulu



Mendahului Para Pendahulu

Dalam sebuah Diskusi Reboan Forum Demokrasi (Fordem) di rumah Marsilam Simanjuntak yang ketika itu dihadiri Abdurrahman Wahid, Rachman Tolleng, Bondan Gunawan, Rocky Gerung, dan beberapa anak muda, Gus Dur melontarkan sebuah gagasan unik. “Saya akan membuat buku berjudul Sekadar Mendahului”, ujar Ketua Fordem waktu itu. “Buku tentang apa itu Gus?” tanya Bang Silam dan Bos –panggilan akrab Rachman Tolleng- hampir bersamaan. ”Itu buku kumpulan kata pengantar buku saya untuk buku orang lain, dari berbagai topik dan kajian”, jawab Gus Dur sambil terkekeh.

Gus Dur, tokoh yang fenomenal itu, pada akhirnya menjadi orang nomor satu di Indonesia: Presiden RI. Tentu saja karena kesibukan mengemban tugas negara, Kyai Presiden ini tak sempat merealisasikan buku “Sekadar Mendahului” hingga ia lengser dari Istana Negara. Namun permintaan untuk menulis kata pengantar buku dari berbagai topik dan kajian terus mengalir. Hingga Gus Dur wafat pada akhir tahun 2009, tercatat ada puluhan buku – mendekati 40-  yang dikatapengantari kiai asal Jombang ini. Dari yang awal- awal, buku "Mati Ketawa Cara Rusia" (GrafitiPres, 1986) dan "Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak" (Gramedia, 1986), sampai yang paling anyar "Mata Air Peradaban" (LKiS, Agustus 2010).

Semestinya buku ini sudah terbit di kala Gus Dur sudah tidak menjadi presiden RI namun tetap aktif di tengah masyarakat. Beberapa pihak telah mencoba untuk menerbitkannya, namun entah mengapa cita-cita Gus Dur itu selalu tertunda. Bahkan Romo YB Mangunwijaya, sahabat tokoh pluralis Indonesia itu telah menyiapkan sebuah kata pengantar untuk buku bunga rampai kata pengantar Gus Dur. Kata pengantar dari Romo Mangun sungguh mendalam dan membedah lengkap hampir semua kata pengantar Gus Dur. Sebaliknya, Gus Dur juga pernah menulis sebuah kata pengantar untuk buku Romo Mangun. Kini kedua tokoh yang saling memberi kata pengantar tersebut telah meninggalkan kita.  

Sebagai kaum muda yang turut hadir di Diskusi Reboan kala itu, kami merasa terpanggil untuk merealisasikan terbitnya buku ”Sekadar Mendahului”. Buku yang mempertemukan mereka kembali secara 'in absentia'. Keterpanggilan ini bersuasana melodramatik, tapi rasanya juga tak berlebihan mengingat kami acap bersentuhan dengan Gus Dur maupun Romo Mangun. Bersama Gus Dur, kami adalah anggota Fordem, sebuah organisasi penekan kebijakan Orde Baru yang didirikan dan diketuainya. Sebagai aktivis, kami pernah beberapa kali mengundang Gus Dur berbicara dalam berbagai forum diskusi, termasuk diskusi berjudul ”Mengintip Suksesi Politik Melalui Lubang Humor” pada tahun 1992. Sedang mengenai kedekatan dengan Romo Mangun adalah di saat kami bergiat di dalam Solidaritas Indonesia untuk Timor Timur (Solidamor), organisasi yang berupaya membebaskan Indonesia dari Timor Leste di mana Romo Mangun duduk sebagai salah satu dewan penasehat.

Pada 10 Februari 1999, Romo wafat. Kami hanya menemani di RS St. Carolous Jakarta, tak mengantar sampai di Yogyakarta. 30 Desember 2009, Gus Dur wafat. Kami mengantar doa dari Yogyakarta, tak turut menemaninya di Jakarta.

***

Salah satu kesulitan yang penyunting hadapi dalam mengumpulkan buku-buku yang dikatapengantari Gus Dur adalah rentang waktu yang cukup panjang antara 1986 sampai 2009. Judul-judul buku sudah kami temukan dengan kata pengantar Gus Dur, namun buku-buku tersebut sulit ditemukan bahkan ada yang penerbitnya sudah tak aktif lagi. Kesulitan berikutnya adalah soal minta ijin kepada penerbit buku-buku tersebut. Kami menghubungi beberapa penerbit melalui email maupun telepon, namun sedikit yang merespon. Dari sedikit respon tersebut, beruntung kami mendapat semangat dari penerbit The Wahid Institute untuk meneruskan penerbitan buku ini. Beberapa kalangan aktivis, wartawan, dan seniman, yang umumnya Gusdurian, juga memberi dorongan kepada penyunting agar buku unik ini segera terbit. Alhasil, kami (hanya) mampu mengumpulkan sekitar 25 buku.

Ada beberapa buku yang belum kami dapatkan, namun akan terlengkapi dalam edisi revisi nanti. Di antaranya:
1) Negeri Tanpa Kyai, Esai Politik Sufi
2) Pergulatan Mencari Jati Diri: Konfusianisme di Indonesia
3) Islam Sufistik: Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia
4) Post Tradisionalisme Islam: Wacana Intelektualisme dalam Komunitas NU
5) Al-Quran, Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme
6) Memahami Hakikat Hukum Islam
7) Perang Tipu Daya antara Bung Karno dengan Tokoh-tokoh Komunis
8) Politik Penaklukan Minoritas
9) Kiai dan Perubahan Sosial
10) Canda Nabi, Tawa Sufi

Karena kendala di atas, maka penyunting sebenarnya belum mendapat jawaban dari penerbit yang bukunya ada kata pengantar Gus Dur. Namun, demi mengejar momentum Setahun Haul Gus Dur, kami mantap menerbitkannya, mewujudkan sebagian cita-cita Gus Dur ini. Penyunting terinspiasi oleh Gus Dur yang dikenal punya seribu akal. Jika misalnya ada penerbit yang tidak rela dan menuntut karena kata pengantar Gus Dur ini dipakai dan diterbitkan, maka kami akan menjawab ala Gus Dur. Dalam Undang-undang Hak Cipta 2010 tertulis ”Dilarang mengutip sebagian isi atau seluruh isi buku ini  dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa ijin sah dari penerbit”. Dengan keyakinan seperti Gus Dur, kami, penyunting akan menjawab: ”Kami tidak mengutip sebagian apalagi seluruh 'Isi Buku' Anda, kami mengutip 'Kata Pengantar'-nya”.

Penyunting berterimakasih kepada penerbit Nalar, LKiS, Gramedia, Pustaka Pelajar, Grafiti Pres, Raja Grafindo Persada, Mizan, Erlangga, Yayasan Panglima Besar Soedirman, Pustaka Sinar Harapan, Pustaka Pesantren, Gerakan Bhineka Tunggal Ika, The Wahid Institute, Ma’arif Institute, Averrose Press, Klik.R, Kata Kita, dan Golden Terayon Press. Terima kasih untuk keluaraga atau Pusat Data YB Mangunwijaya di Yogyakarta. Terima kasih juga kami haturkan kepada penerbit Nuansa Cendikia, Bandung yang menerbitkan buku ini. Kepada Zastrouw Al-Ngatawi, yang dulu bertugas di belakang Gus Dur, kami beri kesempatan untuk mendahului ”Sekadar Mendahului” beliau dengan menulis kata pengantar, meski tetap saja kami dahului. Tak lupa kepada para Gusdurian yang memberi endorsmen untuk buku ini.

Yogyakarta - Jakarta, Desember 2010

Tri Agus S Siswowiharjo - Marto Art

Tidak ada komentar:

Posting Komentar