Stockholm
Syndrome atau Sleeping with Enemy?
Stockholm Syndrome sebagai
peristiwa dimana korban penculikan, penindasan, atau penganiayaan jatuh cinta
kepada orang yang melakukan kekerasan terhadapnya.
DALAM sebuah debat di
SCTV, sekitar sebulan lalu, berhadapan dua kelompok mantan aktivis. Kelompok
pertama, aktivis calon anggota DPR, Budiman Sujatmiko (PDI P), Dita Indah Sari
(PBR), dan Pius Lustrilanang (Partai Gerindra). Kelompok kedua, aktivis yang
masih di ?jalan?, Yeni Rosa Damayanti
(aktivis perempuan),
Hendrik Sirait (Ketua PBHI Jakarta), dan Sanggap (mantan aktivis Forkot).
Dalam debat itu, kelompok
kedua menilai masuknya mantan aktivis ke DPR tak akan mampu mengubah kondisi
bangsa yang karut-marut. Mereka juga dipastikan akan larut dalam budaya Senayan,
seperti menomorduakan kepentingan rakyat atas kepentingan partai dan kekuasaan.
Kelompok pertama berdalih. Justru perjuangan paling tepat adalah di
parlemen. ?Senayan adalah perluasan medan perjua¬ngan, bukan meninggalkan
rakyat di jalan,? kata Dita Indah Sari.
Yang menarik adalah ketika Hendrik Sirait menyatakan keberadaan Pius
Lustrilanang di Partai Gerindra (kendaraan politik Prabowo Subianto) tak
ubahnya seperti membangkitkan praktik Stockholm Syndrome.
Betulkah?
Menurut psikolog, Stockholm Syndrome sebagai peristiwa korban penculikan,
penindasan, atau penganiayaan jatuh cinta kepada orang yang melakukan kekerasan
terhadapnya.
Menurut teori psikoanalisa, sikap ini adalah salah satu bentuk upaya
pembelaan diri sang korban. Sandera memberikan kesetiaan kepada penyandera,
tidak memperdulikan bahaya (atau risiko) yang telah dialami sandera itu.
Sindrom ini dinamai berdasarkan peristiwa pe¬rampokan Kreditbanken di
Stockholm. Perampok bank menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28
Agustus pada 1973. Dalam kasus ini, korban menjadi secara emosional dan menjadi
sayang kepada penyandera, bahkan membela mereka. Istilah sindrom Stockholm
pertama kali dicetuskan kriminolog dan psikiater Nils Bejerot, yang membantu
polisi saat perampokan.
Ada lagi istilah Lima Syndrome. Lima Syndrome adalah kebalikan dari
Stockholm Syndrome. Penyandera memiliki ketertarikan emosional terhadap
sanderanya. Penyandera menjadi simpatik dan merasa membutuhkan si sandera.
Apakah hubungan Pius Lustrilanang dan Prabowo Subianto seperti Stockholm
Syndrome? Pius diculik oleh Tim Mawar Kopassus.
Pertemuan Pius dengan Prabowo pertamakali bukan di Partai Gerinda,
melainkan pada akhir 1999, di Kuala Lumpur. Saat itu, mantan Komandan Kopassus
itu berkata kepada Pius, ”Saya hanya prajurit. Tugas saya memenuhi perintah. Diantaranya adalah menculik kamu.”
Kini, korban dan ”dalang” penculikan itu bergabung di Gerindra. Dalam
berbagai kesempatan Pius ”membela” Prabowo, misalnya mengatakan tugas tentara
adalah menjaga keutuhan negara dan penghilangan orang secara paksa 1998/1999
bukan tindakan koboi petinggi militer saat itu, tetapi merupakan konsekuensi
logis posisi politik TNI sebagai penopang utama rezim Soeharto.
Pius selalu mengedepankan upaya proses KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi),
karena korban dan keluarga korban mendapat kompensasi, serta pelaku mendapat
amnesti. KKR ebih baik ketimbang proses hukum
yang akan membuka luka lama bangsa ini.
Bahkan Pius menilai keinginan Pansus Penghilangan Orang secara Paksa
1998/1999 memanggil para jenderal meng¬ambil alih fungsi Komnas HAM.
Fenomena Stockholm Syndrome bukan monopoli Pius dan aktivis korban
pen¬culikan lainnya yang ber¬ga¬bung di Partai Gerindra. Hubungan Megawati
Soekarnoputri dan Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya, pada kasus 27 Juli 1996 juga mirip
Stockholm Syndrome.
Megawati dan PDI yang menjadi korban (meski bukan langsung Megawati, tetapi
massa PDI), kemudian mendukung mati-matian pencalonan Sutiyoso sebagai Gubernur
DKI Jakarta. Tujuannya demi mengamankan Jakarta untuk mendukung Megawati dalam
Pilpres 2004.
Dalam politik, ada pameo, tak ada musuh abadi dan kawan kekal, yang ada
adalah kepen¬tingan. Kasus Pius dengan Prabowo dan kasus Megawati dengan
Su¬tiyoso bisa kita baca melalui kacamata ini.
Stockholm Syndrome atau bukan dalam hubungan antara mantan korban dan
pelaku sejatinya tak begitu penting. Masalahnya, apakah mereka menolak impunity
atau tidak. Apakah mereka percaya demokrasi yang anti kekerasan atau tidak?
Selain itu, apakah kemesraan mereka bermanfaat buat korban penculikan lainnya
dan bangsa pada umumnya atau tidak?
Jika kemesraan itu hanya demi kepentingan mereka, apalagi untuk menutupi
atau menghapus kesalahan masa lalu, maka yang terjadi bukan saja Stockholm
Syndrome, melainkan sleeping with enemy!
Tri Agus S Siswowiharjo
Mantan aktivis Pijar dan
Solidamor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar