Minggu, 11 Maret 2012

Stockholm Syndrome atau Sleeping with Enemy?


Stockholm Syndrome atau Sleeping with Enemy?

Stockholm Syndrome sebagai peristiwa dimana korban penculikan, penindasan, atau penganiayaan jatuh cinta kepada orang yang melakukan kekerasan terhadapnya.

DALAM sebuah debat di SCTV, sekitar sebulan lalu, berhadapan dua kelompok mantan aktivis. Kelompok pertama, aktivis calon anggota DPR, Budiman Sujatmiko (PDI P), Dita Indah Sari (PBR), dan Pius Lustrilanang (Partai Gerindra). Kelompok kedua, aktivis yang masih di ?jalan?, Yeni Rosa Damayanti
(aktivis perempuan), Hendrik Sirait (Ketua PBHI Jakarta), dan Sanggap (mantan aktivis Forkot).

Dalam debat itu, kelompok kedua menilai masuknya mantan aktivis ke DPR tak akan mampu mengubah kondisi bangsa yang karut-marut. Mereka juga dipastikan akan larut dalam budaya Senayan, seperti menomorduakan kepentingan rakyat atas kepentingan partai dan kekuasaan.

Kelompok pertama berdalih. Justru perjuangan paling tepat adalah di parlemen. ?Senayan adalah perluasan medan perjua¬ngan, bukan meninggalkan rakyat di jalan,? kata Dita Indah Sari.

Yang menarik adalah ketika Hendrik Sirait menyatakan keberadaan Pius Lustrilanang di Partai Gerindra (kendaraan politik Prabowo Subianto) tak ubahnya seperti membangkitkan praktik Stockholm Syndrome.
Betulkah?

Menurut psikolog, Stockholm Syndrome sebagai peristiwa korban penculikan, penindasan, atau penganiayaan jatuh cinta kepada orang yang melakukan kekerasan terhadapnya.

Menurut teori psikoanalisa, sikap ini adalah salah satu bentuk upaya pembelaan diri sang korban. Sandera memberikan kesetiaan kepada penyandera, tidak memperdulikan bahaya (atau risiko) yang telah dialami sandera itu.

Sindrom ini dinamai berdasarkan peristiwa pe¬rampokan Kreditbanken di Stockholm. Perampok bank menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada 1973. Dalam kasus ini, korban menjadi secara emosional dan menjadi sayang kepada penyandera, bahkan membela mereka. Istilah sindrom Stockholm pertama kali dicetuskan kriminolog dan psikiater Nils Bejerot, yang membantu polisi saat perampokan.
Ada lagi istilah Lima Syndrome. Lima Syndrome adalah kebalikan dari Stockholm Syndrome. Penyandera memiliki ketertarikan emosional terhadap sanderanya. Penyandera menjadi simpatik dan merasa membutuhkan si sandera.

Apakah hubungan Pius Lustrilanang dan Prabowo Subianto seperti Stockholm Syndrome? Pius diculik oleh Tim Mawar Kopassus.

Pertemuan Pius dengan Prabowo pertamakali bukan di Partai Gerinda, melainkan pada akhir 1999, di Kuala Lumpur. Saat itu, mantan Komandan Kopassus itu berkata kepada Pius, ”Saya hanya prajurit. Tugas saya memenuhi perintah. Diantaranya adalah menculik kamu.”

Kini, korban dan ”dalang” penculikan itu bergabung di Gerindra. Dalam berbagai kesempatan Pius ”membela” Prabowo, misalnya mengatakan tugas tentara adalah menjaga keutuhan negara dan penghilangan orang secara paksa 1998/1999 bukan tindakan koboi petinggi militer saat itu, tetapi merupakan konsekuensi logis posisi politik TNI sebagai penopang utama rezim Soeharto.

Pius selalu mengedepankan upaya proses KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi), karena korban dan keluarga korban mendapat kompensasi, serta pelaku mendapat amnesti. KKR  ebih baik ketimbang proses hukum yang akan membuka luka lama bangsa ini.

Bahkan Pius menilai keinginan Pansus Penghilangan Orang secara Paksa 1998/1999 memanggil para jenderal meng¬ambil alih fungsi Komnas HAM.
Fenomena Stockholm Syndrome bukan monopoli Pius dan aktivis korban pen¬culikan lainnya yang ber¬ga¬bung di Partai Gerindra. Hubungan Megawati Soekarnoputri dan Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya, pada kasus 27 Juli 1996 juga mirip Stockholm Syndrome.

Megawati dan PDI yang menjadi korban (meski bukan langsung Megawati, tetapi massa PDI), kemudian mendukung mati-matian pencalonan Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tujuannya demi mengamankan Jakarta untuk mendukung Megawati dalam Pilpres 2004.

Dalam politik, ada pameo, tak ada musuh abadi dan kawan kekal, yang ada adalah kepen¬tingan. Kasus Pius dengan Prabowo dan kasus Megawati dengan Su¬tiyoso bisa kita baca melalui kacamata ini.

Stockholm Syndrome atau bukan dalam hubungan antara mantan korban dan pelaku sejatinya tak begitu penting. Masalahnya, apakah mereka menolak impunity atau tidak. Apakah mereka percaya demokrasi yang anti kekerasan atau tidak? Selain itu, apakah kemesraan mereka bermanfaat buat korban penculikan lainnya dan bangsa pada umumnya atau tidak?

Jika kemesraan itu hanya demi kepentingan mereka, apalagi untuk menutupi atau menghapus kesalahan masa lalu, maka yang terjadi bukan saja Stockholm Syndrome, melainkan sleeping with enemy!

Tri Agus S Siswowiharjo
Mantan aktivis Pijar dan Solidamor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar