Kata Pengantar Buku Gus Dur: Sekadar Mendahului
Mendahului Para Pendahulu
Dalam
sebuah Diskusi Reboan Forum Demokrasi (Fordem) di rumah Marsilam
Simanjuntak yang ketika itu dihadiri Abdurrahman Wahid, Rachman Tolleng,
Bondan Gunawan, Rocky Gerung, dan beberapa anak muda, Gus Dur
melontarkan sebuah gagasan unik. “Saya akan membuat buku berjudul
Sekadar Mendahului”, ujar Ketua Fordem waktu itu. “Buku tentang apa itu
Gus?” tanya Bang Silam dan Bos –panggilan akrab Rachman Tolleng- hampir
bersamaan. ”Itu buku kumpulan kata pengantar buku saya untuk buku orang
lain, dari berbagai topik dan kajian”, jawab Gus Dur sambil terkekeh.
Gus Dur, tokoh yang fenomenal itu, pada akhirnya menjadi orang nomor satu di Indonesia: Presiden RI. Tentu
saja karena kesibukan mengemban tugas negara, Kyai Presiden ini tak
sempat merealisasikan buku “Sekadar Mendahului” hingga ia lengser dari
Istana Negara. Namun permintaan untuk menulis kata pengantar buku dari
berbagai topik dan kajian terus mengalir. Hingga Gus Dur wafat pada
akhir tahun 2009, tercatat ada puluhan buku – mendekati 40- yang
dikatapengantari kiai asal Jombang ini. Dari yang awal- awal, buku
"Mati Ketawa Cara Rusia" (GrafitiPres, 1986) dan "Menumbuhkan Sikap
Religius Anak-anak" (Gramedia, 1986), sampai yang paling anyar "Mata Air
Peradaban" (LKiS, Agustus 2010).
Semestinya
buku ini sudah terbit di kala Gus Dur sudah tidak menjadi presiden RI
namun tetap aktif di tengah masyarakat. Beberapa pihak telah mencoba
untuk menerbitkannya, namun entah mengapa cita-cita Gus Dur itu selalu
tertunda. Bahkan Romo YB Mangunwijaya, sahabat tokoh pluralis Indonesia
itu telah menyiapkan sebuah kata pengantar untuk buku bunga rampai kata
pengantar Gus Dur. Kata pengantar dari Romo Mangun sungguh mendalam dan
membedah lengkap hampir semua kata pengantar Gus Dur. Sebaliknya, Gus
Dur juga pernah menulis sebuah kata pengantar untuk buku Romo Mangun.
Kini kedua tokoh yang saling memberi kata pengantar tersebut telah
meninggalkan kita.
Sebagai
kaum muda yang turut hadir di Diskusi Reboan kala itu, kami merasa
terpanggil untuk merealisasikan terbitnya buku ”Sekadar Mendahului”.
Buku yang mempertemukan mereka kembali secara 'in absentia'.
Keterpanggilan ini bersuasana melodramatik, tapi rasanya juga tak
berlebihan mengingat kami acap bersentuhan dengan Gus Dur maupun Romo
Mangun. Bersama Gus Dur, kami adalah anggota Fordem, sebuah organisasi
penekan kebijakan Orde Baru yang didirikan dan diketuainya. Sebagai
aktivis, kami pernah beberapa kali mengundang Gus Dur berbicara dalam
berbagai forum diskusi, termasuk diskusi berjudul ”Mengintip Suksesi
Politik Melalui Lubang Humor” pada tahun 1992. Sedang mengenai kedekatan
dengan Romo Mangun adalah di saat kami bergiat di dalam Solidaritas
Indonesia untuk Timor Timur (Solidamor), organisasi yang berupaya
membebaskan Indonesia dari Timor Leste di mana Romo Mangun duduk sebagai
salah satu dewan penasehat.
Pada
10 Februari 1999, Romo wafat. Kami hanya menemani di RS St. Carolous
Jakarta, tak mengantar sampai di Yogyakarta. 30 Desember 2009, Gus Dur
wafat. Kami mengantar doa dari Yogyakarta, tak turut menemaninya di
Jakarta.
***
Salah
satu kesulitan yang penyunting hadapi dalam mengumpulkan buku-buku yang
dikatapengantari Gus Dur adalah rentang waktu yang cukup panjang antara
1986 sampai 2009. Judul-judul buku sudah kami temukan dengan kata
pengantar Gus Dur, namun buku-buku tersebut sulit ditemukan bahkan ada
yang penerbitnya sudah tak aktif lagi. Kesulitan berikutnya adalah soal
minta ijin kepada penerbit buku-buku tersebut. Kami menghubungi beberapa
penerbit melalui email maupun telepon, namun sedikit yang merespon.
Dari sedikit respon tersebut, beruntung kami mendapat semangat dari
penerbit The Wahid Institute untuk meneruskan penerbitan buku ini.
Beberapa kalangan aktivis, wartawan, dan seniman, yang umumnya
Gusdurian, juga memberi dorongan kepada penyunting agar buku unik ini
segera terbit. Alhasil, kami (hanya) mampu mengumpulkan sekitar 25 buku.
Ada beberapa buku yang belum kami dapatkan, namun akan terlengkapi dalam edisi revisi nanti. Di antaranya:
1) Negeri Tanpa Kyai, Esai Politik Sufi
2) Pergulatan Mencari Jati Diri: Konfusianisme di Indonesia
3) Islam Sufistik: Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia
4) Post Tradisionalisme Islam: Wacana Intelektualisme dalam Komunitas NU
5) Al-Quran, Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme
6) Memahami Hakikat Hukum Islam
7) Perang Tipu Daya antara Bung Karno dengan Tokoh-tokoh Komunis
8) Politik Penaklukan Minoritas
9) Kiai dan Perubahan Sosial
10) Canda Nabi, Tawa Sufi
Karena
kendala di atas, maka penyunting sebenarnya belum mendapat jawaban dari
penerbit yang bukunya ada kata pengantar Gus Dur. Namun, demi mengejar
momentum Setahun Haul Gus Dur, kami mantap menerbitkannya, mewujudkan
sebagian cita-cita Gus Dur ini. Penyunting terinspiasi oleh Gus Dur yang
dikenal punya seribu akal. Jika misalnya ada penerbit yang tidak rela
dan menuntut karena kata pengantar Gus Dur ini dipakai dan diterbitkan,
maka kami akan menjawab ala Gus Dur. Dalam Undang-undang Hak Cipta 2010
tertulis ”Dilarang mengutip sebagian isi atau seluruh isi buku ini dengan
cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa ijin
sah dari penerbit”. Dengan keyakinan seperti Gus Dur, kami, penyunting
akan menjawab: ”Kami tidak mengutip sebagian apalagi seluruh 'Isi Buku'
Anda, kami mengutip 'Kata Pengantar'-nya”.
Penyunting
berterimakasih kepada penerbit Nalar, LKiS, Gramedia, Pustaka Pelajar,
Grafiti Pres, Raja Grafindo Persada, Mizan, Erlangga, Yayasan Panglima
Besar Soedirman, Pustaka Sinar Harapan, Pustaka Pesantren, Gerakan
Bhineka Tunggal Ika, The Wahid Institute, Ma’arif Institute, Averrose
Press, Klik.R, Kata Kita, dan Golden Terayon Press. Terima kasih untuk
keluaraga atau Pusat Data YB Mangunwijaya di Yogyakarta. Terima kasih
juga kami haturkan kepada penerbit Nuansa Cendikia, Bandung yang
menerbitkan buku ini. Kepada Zastrouw Al-Ngatawi, yang dulu bertugas di
belakang Gus Dur, kami beri kesempatan untuk mendahului ”Sekadar
Mendahului” beliau dengan menulis kata pengantar, meski tetap saja kami
dahului. Tak lupa kepada para Gusdurian yang memberi endorsmen untuk
buku ini.
Yogyakarta - Jakarta, Desember 2010
Tri Agus S Siswowiharjo - Marto Art