London Aku Ingin Kembali
#AyoKeUK
Goodbye England’s Rose’
From a country lost without your soul,
Who’ll miss the wings of your compassion
More than you’ll ever know
Setiap mendengar lagu “Candle in the Wind” atau “Goodbye England’s Rose”, karya Bernie Taupin dan Elton John, yang dinyanyikan Elton John, saya langsung teringat London. Seolah saya dibawa kembali ke ibukota Inggris itu menyusuri tempat-tempat indah yang pernah saya jelajahi. Padahal saya mengunjungi kota itu lebih dari dua puluh tahun lalu. Tahun 1997. Saya beruntung karena pada saat yang sama, seluruh mata dunia sedang memandang ke negeri Ratu Elizabhet itu, karena ada tokoh besar namun rendah hati meninggal dunia. Ya, ketika itu, Putri Diana yang meninggal itu.
Saya berangkat dari Amsterdam Schiphol, Belanda, menuju Heathrow Airport dekat London pada 4 September 1997. Ini artinya dua hari menjelang pemakaman, ibu dari Pangeran Harry dan Pangeran William, 6 September 1997. Semua tahu, seluruh dunia terkejut saat Lady Di meninggal akibat kecelakaan lalulintas di Paris, Perancis, pada 31 Agustus 1997. Mungkin bagi saya, ini kebetulan yang membahagiakan, ikut menyaksikan sebuah negeri yang sedang sedih. Dan, lebih membanggakan lagi, saya bisa menjadi saksi sejarah melihat “pemakaman abad ini” di sana.
Saya pun ikut larut dalam kesedihan, karena di sekeling saya tua-muda, laki-laki-perempuan tampak sedih. Saya berdiri di depan Buckingham Palace cukup lama. Dari karangan bunga hanya puluhan hingga ribuan karangan bunga di depan pagar istana yang tiap hari dikunjungi ribuan turis mancanegara itu, Tak hanya karangan bunga, sebagai tanda cinta dan duka untuk putri kelahiran 1 Juli 1961 itu. Ada juga surat, poster, T-Shirt, sampai boneka.
Pada hari pemakaman, saya dan sekitar dua juta warga London ikut berdiri di sepanjang jalan yang dilewati kereta jenasah Sang Putri yang oleh Presiden Amerika Serikat Bill Clinton disebut “a giant of our time throught her simple humility” itu. Saya berada di sekitar gereja Westminter Abbye. Di gereja itu Elton John menyanyikan lagu “Candle in the Wind” untuk mengantarkan “England’s Rose” ke peristirahatan terakhirnya. Sebuah lagu yang sangat menyentuh, menyayat hati.
Jenazah Putri Diana diarak dengan kereta kerajaan dari Westminter Abbye menuju pemakaman keluarga Diana di Althorp, Northamtonshire, kira-kira sejauh 80 mil. Prosesi pemakaman disaksikan sekitar 2,5 miliar penduduk dunia, termasuk masyarakat Indonesia, melalui siaran langsung di televisi. Tentu saja saya ikut merasakan negeri itu dalam keadaan berduka. Saat itu Inggris menangis.
Itulah sebagian pengalaman saya yang tak terlupakan ketika mengunjungi London. Tapi tak itu saja. Ada pengalaman lain yang juga tak terlupa, Saya terpaksa semalam tidur di Central Station London. Lho kok bisa. Berikut pengalaman yang agak memalukan itu.
Selama berada di London, saya menginap di rumah seorang kawan di Thornton Heath pinggiran selatan London. Kawan saya menyarankan agar kalau kemana-mana naik kereta bawah tanah. Orang London menyebut “the Tube”. Silakan menukar dulu mata uang dolar ke poundsterling (disebut “Quit”). Setelah itu bisa dipakai untuk membeli tiket kereta bawah tanah. Selain dengan menggunakan “the Tube” bisa juga dengan naik bus tingkat dengan warna khas, merah. London Underground atau Underground merupakan jaringan kereta listrik tertua dan mungkin tersibuk di dunia dengan 3 juta penumpang setiap hari. Beroperasi sejak 10 Januari 1863 memiliki 274 stasiun dan 408 km rel aktif.
Saya naik kereta dari Stasiun Thornton Heath menuju Stasiun London Victoria. Perjalanan sepanjang 14 kilometer melewati beberapa stasiun. Dari Stasiun Victoria, yang merupakan stasiun kereta pusat London itu, saya berpindah moda transportasi lain, menggunakan bus tingkat menuju tempat-tempat yang sudah populer seperti Hyde Park, St. James Park, Trafalgar Square, London Bridge, Parliament House & Big Ben dan Buckingham Palace. Tahun itu, London Eye belum ada.
Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dengan jalan kaki dari Stasiun Victoria. Berbekal London Map yang gratis saya berjalan kaki menikmati keindahan dan kemegahan Parliament House & Big Ben yang terkenal itu. Suara Big Ben mengingatkan tanda menjelang siaran berita di Radio BBC London siaran Bahasa Indonesia. Radio ini sering saya dengar saat saya SMA dan mahasiswa. Gedung parlemen Kerajaan Inggris itu berwarna coklat. Terletak di pinggir Sungai Thames yang membelah kota London. Di sini juga terdapat Westminster Bridge. Dalam penjelajahan itu tak lupa saya melihat dari dekat ikon-ikon London yang telah mendunia misalnya kotak telepon umum merah, taksi kuno hitam, dan bus tingkat merah.
Usai jalan-jalan sampai larut malam saya bergegas pulang. Kembali ke Thornton Heath menggunakan kereta, lalu jalan kaki sekitar dua blok dari stasiun. Namun betapa memalukan, rupanya saya tersesat. Saya bingung melihat bangunan perumahan yang nyaris sama. Lebih celaka, saat itu saya belum mempunyai HP dan tak ingat nomor telepon rumah kawan. Singkatnya, saya tak menemukan rumah kawan saya itu. Hari kian beranjak larut malam. Pinggiran kota tampak lengang dan sepi.
Saya akhirnya memutuskan kembali naik kereta, mungkin kereta terakhir, ke Stasiun Victoria London. Kembali ke pusat kota yang luasnya 1,579 km2 itu. Dan dengan terpaksa tidur di stasiun terbesar di London itu bersama beberapa gelandangan. Awalnya ada perasaan takut. Namun kecapaian dan rasa kantuk membuat saya langsung tertidur di sebuah bangku stasiun. Pagi sekali saya dibangunkan oleh keramaian stasiun sebelum kereta pertama datang atau berangkat di stasiun itu.
Itulah pengalaman saya mengunjungi London yang tak mungkin terlupa sampai saya tua. Pengalaman menjadi saksi mata “pemakaman abad ini” dan tidur bersama gelandangan di stasiun kereta London Victoria.
Tentu saja saya ingin kembali mengunjungi London, metropolitan berpenduduk lebih dari 8 juta jiwa (sensus 2011) itu. Kota itu pasti sudah banyak berubah. Ada London Eye, gedung-gedung baru yang tinggi, serta bus kota dan taxi yang lebih baru. Jika saya berkunjung kembali ke Inggris, saya tak hanya ingin ke London, tapi juga kota-kota lain seperti Manchester dan Liverpool. Di dua kota itu yang pertama saya kunjungi adalah Old Trafford, Etihad Stadium dan Anfield. Ya, ketiganya adalah stadion sepakbola markas Manchester United, Manchester City, dan Liverpool FC.
#AyoKeUK
#WTGB
#OMGB
#AyoKeUK
Goodbye England’s Rose’
From a country lost without your soul,
Who’ll miss the wings of your compassion
More than you’ll ever know
Setiap mendengar lagu “Candle in the Wind” atau “Goodbye England’s Rose”, karya Bernie Taupin dan Elton John, yang dinyanyikan Elton John, saya langsung teringat London. Seolah saya dibawa kembali ke ibukota Inggris itu menyusuri tempat-tempat indah yang pernah saya jelajahi. Padahal saya mengunjungi kota itu lebih dari dua puluh tahun lalu. Tahun 1997. Saya beruntung karena pada saat yang sama, seluruh mata dunia sedang memandang ke negeri Ratu Elizabhet itu, karena ada tokoh besar namun rendah hati meninggal dunia. Ya, ketika itu, Putri Diana yang meninggal itu.
Saya berangkat dari Amsterdam Schiphol, Belanda, menuju Heathrow Airport dekat London pada 4 September 1997. Ini artinya dua hari menjelang pemakaman, ibu dari Pangeran Harry dan Pangeran William, 6 September 1997. Semua tahu, seluruh dunia terkejut saat Lady Di meninggal akibat kecelakaan lalulintas di Paris, Perancis, pada 31 Agustus 1997. Mungkin bagi saya, ini kebetulan yang membahagiakan, ikut menyaksikan sebuah negeri yang sedang sedih. Dan, lebih membanggakan lagi, saya bisa menjadi saksi sejarah melihat “pemakaman abad ini” di sana.
Saya pun ikut larut dalam kesedihan, karena di sekeling saya tua-muda, laki-laki-perempuan tampak sedih. Saya berdiri di depan Buckingham Palace cukup lama. Dari karangan bunga hanya puluhan hingga ribuan karangan bunga di depan pagar istana yang tiap hari dikunjungi ribuan turis mancanegara itu, Tak hanya karangan bunga, sebagai tanda cinta dan duka untuk putri kelahiran 1 Juli 1961 itu. Ada juga surat, poster, T-Shirt, sampai boneka.
Pada hari pemakaman, saya dan sekitar dua juta warga London ikut berdiri di sepanjang jalan yang dilewati kereta jenasah Sang Putri yang oleh Presiden Amerika Serikat Bill Clinton disebut “a giant of our time throught her simple humility” itu. Saya berada di sekitar gereja Westminter Abbye. Di gereja itu Elton John menyanyikan lagu “Candle in the Wind” untuk mengantarkan “England’s Rose” ke peristirahatan terakhirnya. Sebuah lagu yang sangat menyentuh, menyayat hati.
Jenazah Putri Diana diarak dengan kereta kerajaan dari Westminter Abbye menuju pemakaman keluarga Diana di Althorp, Northamtonshire, kira-kira sejauh 80 mil. Prosesi pemakaman disaksikan sekitar 2,5 miliar penduduk dunia, termasuk masyarakat Indonesia, melalui siaran langsung di televisi. Tentu saja saya ikut merasakan negeri itu dalam keadaan berduka. Saat itu Inggris menangis.
Itulah sebagian pengalaman saya yang tak terlupakan ketika mengunjungi London. Tapi tak itu saja. Ada pengalaman lain yang juga tak terlupa, Saya terpaksa semalam tidur di Central Station London. Lho kok bisa. Berikut pengalaman yang agak memalukan itu.
Selama berada di London, saya menginap di rumah seorang kawan di Thornton Heath pinggiran selatan London. Kawan saya menyarankan agar kalau kemana-mana naik kereta bawah tanah. Orang London menyebut “the Tube”. Silakan menukar dulu mata uang dolar ke poundsterling (disebut “Quit”). Setelah itu bisa dipakai untuk membeli tiket kereta bawah tanah. Selain dengan menggunakan “the Tube” bisa juga dengan naik bus tingkat dengan warna khas, merah. London Underground atau Underground merupakan jaringan kereta listrik tertua dan mungkin tersibuk di dunia dengan 3 juta penumpang setiap hari. Beroperasi sejak 10 Januari 1863 memiliki 274 stasiun dan 408 km rel aktif.
Saya naik kereta dari Stasiun Thornton Heath menuju Stasiun London Victoria. Perjalanan sepanjang 14 kilometer melewati beberapa stasiun. Dari Stasiun Victoria, yang merupakan stasiun kereta pusat London itu, saya berpindah moda transportasi lain, menggunakan bus tingkat menuju tempat-tempat yang sudah populer seperti Hyde Park, St. James Park, Trafalgar Square, London Bridge, Parliament House & Big Ben dan Buckingham Palace. Tahun itu, London Eye belum ada.
Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi dengan jalan kaki dari Stasiun Victoria. Berbekal London Map yang gratis saya berjalan kaki menikmati keindahan dan kemegahan Parliament House & Big Ben yang terkenal itu. Suara Big Ben mengingatkan tanda menjelang siaran berita di Radio BBC London siaran Bahasa Indonesia. Radio ini sering saya dengar saat saya SMA dan mahasiswa. Gedung parlemen Kerajaan Inggris itu berwarna coklat. Terletak di pinggir Sungai Thames yang membelah kota London. Di sini juga terdapat Westminster Bridge. Dalam penjelajahan itu tak lupa saya melihat dari dekat ikon-ikon London yang telah mendunia misalnya kotak telepon umum merah, taksi kuno hitam, dan bus tingkat merah.
Usai jalan-jalan sampai larut malam saya bergegas pulang. Kembali ke Thornton Heath menggunakan kereta, lalu jalan kaki sekitar dua blok dari stasiun. Namun betapa memalukan, rupanya saya tersesat. Saya bingung melihat bangunan perumahan yang nyaris sama. Lebih celaka, saat itu saya belum mempunyai HP dan tak ingat nomor telepon rumah kawan. Singkatnya, saya tak menemukan rumah kawan saya itu. Hari kian beranjak larut malam. Pinggiran kota tampak lengang dan sepi.
Saya akhirnya memutuskan kembali naik kereta, mungkin kereta terakhir, ke Stasiun Victoria London. Kembali ke pusat kota yang luasnya 1,579 km2 itu. Dan dengan terpaksa tidur di stasiun terbesar di London itu bersama beberapa gelandangan. Awalnya ada perasaan takut. Namun kecapaian dan rasa kantuk membuat saya langsung tertidur di sebuah bangku stasiun. Pagi sekali saya dibangunkan oleh keramaian stasiun sebelum kereta pertama datang atau berangkat di stasiun itu.
Itulah pengalaman saya mengunjungi London yang tak mungkin terlupa sampai saya tua. Pengalaman menjadi saksi mata “pemakaman abad ini” dan tidur bersama gelandangan di stasiun kereta London Victoria.
Tentu saja saya ingin kembali mengunjungi London, metropolitan berpenduduk lebih dari 8 juta jiwa (sensus 2011) itu. Kota itu pasti sudah banyak berubah. Ada London Eye, gedung-gedung baru yang tinggi, serta bus kota dan taxi yang lebih baru. Jika saya berkunjung kembali ke Inggris, saya tak hanya ingin ke London, tapi juga kota-kota lain seperti Manchester dan Liverpool. Di dua kota itu yang pertama saya kunjungi adalah Old Trafford, Etihad Stadium dan Anfield. Ya, ketiganya adalah stadion sepakbola markas Manchester United, Manchester City, dan Liverpool FC.
#AyoKeUK
#WTGB
#OMGB


